Acara yang digelar di lapangan Gajahmada Tembilahan itu, dihadiri oleh para penyair besar di Provinsi Riau. ''Izinkan saya membaca puisi Kendaraan Tuhan, mohon ma'af saya tidak begitu pandai membaca puisi, tapi ini termotivasi karena kehadiran tamu dari Pekanbaru dan Kabupaten Inhil,'' ujar Bupati sebelum membacakan puisi tersebut.
Meskipun kerap tampil di depan banyak orang, namun saat membacakan puisi ini, dikatakan Bupati ia merasa grogi. ''Sebenarnya gerogi juga saya bukan seniman, tapi saya termotivasi dan merasa terbuai,'' ujar Bupati.
Ia berharap apa yang terdapat pada setiap bait puisi itu, bisa diterapkan di dalam kehidupan nyata, sehingga digelarnya kegiatan itu memberikan dampak positif bagi siapa saja yang menyaksikan.
''Malam ini, terkumpul para seniman yang juga pernah membacakan puisi di luar Negeri, semoga apa yang mereka sampaikan itu, bisa memberikan manfaat bagi kita semua,'' tukas HM Wardan.
Berikut isi puisi yang dibacakan Bupati:
KENDARAAN TUHAN
Tuhan. Apa yang kulakukan ini. Tak lain menyembuyikan kejantananku. Dari kejenuhan menunggu jemputan. Kendaraan sekeratul maut-Mu.
Tuhan Aku bukan putus asa. Aku sudah jalani masa muda yang temberang. Aku sudah lalui masa dewasa yang menyagang. Nyatanya semuanya tembelang. Manusia laksana buih yang melayang. Sepanjang abad angin tetap memainkan gelombang.
Angin yang meniup telingaku saat ini mungkin saja. Angin yang di abad lalu menghembus layar datuk-nenekku. Angin yang di masa depan menghempas cadik cucu cicitku.
Tuhan,kodrat-Mu. Mahluk kerak bumi terus berganti tukar. Menjadi remah,mengisi remeh temeh planet ini. Dari-Mu tiada yang sia-sia. Cuma kami bebal alfa. (DPR/Advertorial/Humas)