Sukiman : Pemahaman Pancasila Harus Ditanamkan Sedini Mungkin
Portalriau.com - ROKAN HULU - Plt Bupati Rokan Hulu (Rohul) H. Sukiman meminta seluruh pendidik di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) untuk menanamkan pemahaman pancasila serta 4 pilar kebangsanaan sedini mungkin kepada generasi muda, ini menyikapi mulai pudarnya pemahaman pancasila di tengah era globalisasi dan reformasi saat ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Plt Bupati Rohul Sukiman, saat menjadi isnpektur upacara peringatan hari Kesaktian Pancasila yang digelar di Halaman Kantor Bupati Rohul Pasir Pengaraian.
Peringatan hari Kesaktian Pancasila yang mengambil tema "Kerja Nyata Untuk Kemajuan Bangsa Sebagai Wujud Pengawalan Pancasila” ini, dihadiri ketua DPRD Rohul Kelmi Amri SH, Kapolres Rohul AKBP Yusuf Rahmanto, Sekdakab Rohul Damri Harun, Kepala Dinas, Badan dan Kantor di lingkungan Pemkab Rohul serta unsur TNI/ Polri, ASN dan tenaga honorer di Lingkungan Pemkab Rohul.
Plt Bupati Sukiman mengaku dirinya sebenarnya sangat miris melihat kondisi generasi muda sekarang, yang kurang memahami tentang apa itu pancasila. Padahal, bila dilihat sejarah bangsa, para pahlawan revolusi rela mengorbankan jiwa dan raga mereka demi mempertahankan ideologi bangsa dari ancaman penghinatan kaum Komunis yang ingin mengganti ideologi bangsa.
“Saya khawatir, jika hal ini dibiarkan, generasi muda kita akan kehilangan jati diri mereka sebagai putra putri indonesia,” sebutnya.
Mantan Dandim Inhil itu mengaku, agar generasi muda khusunya di Kabupaten Rohul tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia, dirinya telah menekankan kepada Dinas Pendidikan Rohul untuk menanamkan pemahaman tentang 4 Pilar kebangsaan yakni pancasila sebagai ideologi negara, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal ika.
Hal ini menurutnya penting, untuk menumbuhkan rasa bangga generasi muda rohul, bahwa mereka adalah bangsa indonesia. “Melalui pemahaman 4 pilar kebangsaan ini , generasi muda kita di rokan hulu ini akan diberikan pemahaman tentang luasnya bangsa Indonesia yang terdiri dari beraneka ragam suku bangsa, ras bahasa, warna kulit dan agama tetapi satu dalam bingkai NKRI sesuai falsafah Bhineka Tunggal ika, berbeda-beda tapi tetap satu,” pungkasnya. (DPR/Advertorial/Humas)